Kota Depok terus menegaskan posisinya sebagai salah satu pusat pertumbuhan ekonomi kreatif di Jawa Barat. Sepanjang 2026, geliat usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di kota ini menunjukkan tren yang semakin dinamis. Kolaborasi multipihak—melibatkan pemerintah daerah, perguruan tinggi, sektor swasta, hingga lembaga filantropi—menjadi motor penggerak utama. Dari revitalisasi pusat UMKM, pendampingan digital oleh mahasiswa, hingga lahirnya sentra-sentra kuliner baru di tingkat kelurahan, seluruh ekosistem bergerak menuju satu tujuan: menjadikan UMKM Depok naik kelas dan berdaya saing. Berikut adalah potret komprehensif perjalanan UMKM Depok sepanjang 2026.
Kebangkitan Sentra UMKM: Dari ITC hingga Setiap Kecamatan
Pemerintah Kota Depok mengambil langkah strategis dengan merevitalisasi dan memperluas sentra-sentra UMKM sebagai pusat promosi dan pemasaran produk lokal.
Revitalisasi UMKM Center ITC: Klinik Bisnis Gratis untuk Pelaku Usaha
Pemerintah Kota Depok melalui Dinas Koperasi dan Usaha Mikro (DKUM) melakukan revitalisasi UMKM Center yang berada di ITC Depok. Kepala DKUM Kota Depok, Mohamad Thamrin, menjelaskan bahwa pusat UMKM ini telah lama ada, namun kini dioptimalkan fungsinya dengan menghadirkan berbagai layanan baru. “UMKM Center ITC ini sebenarnya sudah lama, tapi pada kesempatan ini direvitalisasi. Kita buat bagus lagi dan kita tambahkan berbagai macam layanan,” ujarnya.
Salah satu layanan unggulan yang dihadirkan adalah klinik bisnis. Layanan ini ditujukan bagi pelaku UMKM yang belum sempat mengikuti pelatihan formal. Di klinik bisnis ini, UMKM bisa berkonsultasi terkait desain kemasan, manajemen keuangan, hingga pengurusan perizinan usaha tanpa dipungut biaya apapun. Klinik buka setiap hari kerja mulai pukul 08.00 hingga 15.00 WIB.
DKUM juga menggandeng sejumlah perangkat daerah dalam pengelolaan UMKM Center, termasuk Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak (DP3AP2KB) untuk mendukung perempuan kepala keluarga, Dinas Kesehatan untuk layanan Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT), hingga Dinas Tenaga Kerja yang melibatkan peserta pelatihan barista untuk membuka kedai kopi sederhana di UMKM Center.
Wali Kota Dorong Sentra UMKM di Seluruh Kecamatan
Tidak hanya berhenti di ITC, Wali Kota Depok Supian Suri mendorong agar setiap kecamatan memiliki sentra UMKM sebagai pusat promosi dan pemasaran produk lokal. “Saya minta tolong dicarikan setiap kecamatan untuk sentra UMKM. Jangan hanya mengandalkan event-event musiman. Pasti ada fasos-fasum di masing-masing kecamatan yang bisa dijadikan tempat sentra UMKM kita,” ujarnya.
Saat ini, DKUM telah menyiapkan 11 titik sentra UMKM kecamatan yang akan menjadi etalase produk-produk unggulan lokal. Supian juga meminta agar bila perlu Pemkot membeli lahan khusus untuk sentra UMKM di kecamatan agar produk lokal semakin dikenal luas.
Sentra Kue Subuh Tanah Baru: Kolaborasi Akar Rumput
Salah satu inisiatif yang patut dicontoh datang dari Kelurahan Tanah Baru, Kecamatan Beji, melalui program Sentra Kue Subuh yang digagas Koperasi Konsumen Usaha Tanah Baru Mandiri. Program ini menjadi wujud kolaborasi pelaku UMKM di tingkat kelurahan untuk menggerakkan perekonomian masyarakat sekaligus memperluas pasar produk kuliner lokal.
Ketua Koordinator UMKM Kelurahan Tanah Baru, Ernawati Rosha, mengungkapkan bahwa meski baru diikuti 11 pelaku UMKM, antusiasme masyarakat cukup tinggi. Beragam menu dijajakan, mulai dari cumi asin, nasi ulam, nasi kuning, bubur Manado, surabi kinca, salad, hingga berbagai kue tradisional. Harga makanan yang dijual bervariasi dan terjangkau, mulai dari Rp2.000 hingga Rp15.000.
“Berlokasi di Lumbung 86, Jalan Raya Tanah Baru, kami buka setiap hari pukul 05.30–09.30 WIB, dan libur setiap Jumat. Adapun target pasar kami yaitu masyarakat yang melintas, pekerja, dan warga sekitar,” ungkap Ernawati. Model seperti ini diharapkan dapat direplikasi di kelurahan-kelurahan lain.
Untuk informasi lebih lanjut seputar sentra UMKM dan perkembangan ekonomi kreatif di Kota Depok, kunjungi laman Info Depok yang secara konsisten menyajikan berita terpercaya bagi warga Depok dan sekitarnya.
Kolaborasi Kampus: Dari Pendampingan Digital hingga Inovasi AI
Perguruan tinggi di sekitar Depok memainkan peran vital dalam mempercepat transformasi digital UMKM. Berbagai program pengabdian masyarakat dan inovasi teknologi lahir dari kolaborasi kampus dengan pelaku usaha lokal.
VokHumFest 2026: Mahasiswa UI Dampingi UMKM Lewat Digital PR
Program Studi Hubungan Masyarakat Program Pendidikan Vokasi Universitas Indonesia kembali menghadirkan VokHumFest 2026. Kegiatan ini menjadi wadah kolaborasi antara mahasiswa dan UMKM dalam mengembangkan strategi komunikasi kreatif melalui pendekatan kehumasan digital.
Rangkaian kegiatan berlangsung sejak Februari hingga Mei 2026 dan mengusung konsep Service Learning Model, di mana mahasiswa terjun langsung mendampingi UMKM untuk membantu membangun promosi digital melalui pengelolaan media sosial, produksi konten kreatif, desain visual, artikel berita, video profil, katalog, hingga berbagai materi komunikasi digital lainnya. Sebanyak 18 UMKM terpilih mendapatkan pendampingan intensif.
Wakil Wali Kota Depok Chandra Rahmansyah menilai dampak pendampingan mahasiswa terhadap UMKM mulai terlihat dari sisi promosi hingga pertumbuhan pendapatan usaha. “Pada booth hari ini saya melihat hasil karya mahasiswa untuk membantu promosi UMKM dan saya telah melihat sendiri bagaimana dampak yang dirasakan oleh UMKM yang berkolaborasi dengan adik-adik mahasiswa, revenue-nya naik,” ujarnya.
Salah satu pelaku UMKM binaan, Evanti Tungga Dewi, mengaku pendampingan tersebut membantu usahanya berkembang. “Alhamdulillah, setelah ikut program ini, followers bertambah, engagement naik, dan algoritma juga ikut meningkat dan pastinya omzet juga meningkat,” tuturnya.
UMKM-GO: Platform AI Jembatan UMKM dan Investor
Tiga mahasiswa UI dari Program Studi Bisnis Kreatif menciptakan inovasi UMKM-GO, sebuah platform berbasis kecerdasan buatan (AI) yang dirancang untuk membantu pelaku UMKM dalam menganalisis kelayakan usaha secara objektif, terstruktur, dan berbasis data.
“Dengan memanfaatkan AI, platform UMKM-GO mampu memberikan analisis yang cepat, konsisten, dan dapat diakses oleh banyak pengguna. Platform ini tidak hanya membantu UMKM meningkatkan kualitas manajemen, tetapi juga mendorong perubahan pola pikir menuju pengambilan keputusan berbasis data,” ujar Muhammad Fayadh, salah satu inovator.
UMKM-GO hadir sebagai jembatan antara pelaku UMKM dan investor. Melalui platform ini, UMKM dapat memperoleh skor kesiapan usaha lengkap dengan analisis mendalam dan rekomendasi strategis. Investor pun dimudahkan dengan sistem screening yang lebih efisien untuk menemukan UMKM potensial.
Pelatihan Digital oleh FEB UP dan Jurnalis Indonesia
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pancasila (FEB UP) juga turun tangan memberikan edukasi ekonomi kepada UMKM di Kecamatan Sawangan Baru. Program Pengabdian kepada Masyarakat ini berfokus pada empat sesi pelatihan utama: akuntansi digital berbasis Android, pemanfaatan platform e-pajak, pemasaran digital, dan manajemen risiko.
Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan pemahaman yang signifikan pada seluruh topik pelatihan, dengan rata-rata penilaian keseluruhan kegiatan mencapai rentang 85–100.
Sementara itu, dalam rangka Hari Pers Nasional 2026, sebanyak 50 pelaku UMKM Depok dibekali strategi digital marketing dan konten kreatif. Kegiatan ini menghadirkan praktisi digital marketing, pelaku usaha inspiratif, dan influencer media sosial yang membagikan strategi e-commerce, pemanfaatan AI, serta produksi konten menggunakan smartphone.
Kisah Sukses: Kue Gelek Naik Kelas Berkat Digitalisasi
Transformasi UMKM Depok tidak hanya terlihat dari angka, tetapi juga dari kisah-kisah nyata pelaku usaha yang berhasil naik kelas. Salah satu kisah paling inspiratif datang dari “Kue Gelek”, usaha camilan tradisional rumahan di kawasan Limo, Depok.
Sebelum pendampingan, usaha yang dikelola Ibu Yanti ini hanya memproduksi sekitar 10-15 kilogram camilan per minggu dengan pencatatan manual dan pasar yang terbatas di sekitar Limo. Melalui program Pengabdian kepada Masyarakat dari Universitas Sahid Jakarta, Kue Gelek bertransformasi menjadi UMKM modern berbasis digital.
“Saya tidak pernah membayangkan bisa menjual kue lewat TikTok dan Shopee. Sekarang pelanggan datang bukan hanya dari Depok, tapi juga Jakarta dan Bogor,” ujar Ibu Yanti. Evaluasi program menunjukkan peningkatan signifikan: tingkat pengetahuan mitra melonjak dari 28 persen menjadi 88 persen, pemahaman manajerial meningkat dari 24 persen menjadi 90 persen, dan omzet usaha naik hingga 60 persen.
Sistem kerja kini lebih tertata dengan jadwal berbasis Google Sheet, pembagian tugas yang jelas, serta pencatatan keuangan otomatis yang dapat diakses kapan saja. Tim pendamping juga membantu pengadaan photo studio kit, lighting set, dan live streaming kit agar Kue Gelek mampu memproduksi konten promosi profesional.
Program Pembiayaan dan Pendampingan Komprehensif
Akses permodalan dan pendampingan menjadi dua pilar utama yang terus diperkuat untuk mendorong pertumbuhan UMKM Depok.
KUR Super Mikro hingga Subsidi Bunga
Pemerintah Kota Depok bersama Bank BJB meluncurkan Program SIKUAT (Sistem Kredit Usaha Aman Terjangkau) dengan skema subsidi bunga 9 persen, sehingga UMKM hanya perlu membayar bunga 1 persen. Hingga akhir 2025, program ini sudah dimanfaatkan oleh sedikitnya 10 UMKM.
Kepala DKUM Kota Depok, Mohamad Thamrin, menjelaskan bahwa dari sisi pembiayaan, tersedia program pinjaman tanpa bunga sampai Rp5 juta dan kredit subsidi hingga Rp50 juta. “Kalau bunga kredit 10 persen, maka UMKM hanya bayar satu persen. Sembilan persennya disubsidi APBD Kota Depok,” jelasnya.
Untuk mengikuti program ini, UMKM harus mendaftar melalui aplikasi D’Krens serta terdaftar di kelurahan maupun kecamatan. Saat ini, sudah ada sekitar 12 ribu UMKM yang masuk dalam database DKUM Kota Depok.
LAZISNU Depok: Investasi Rp150 Juta untuk 30 UMKM
Lembaga Amil Zakat, Infak, dan Sedekah Nahdlatul Ulama (LAZISNU) Kota Depok turut memperkuat pemberdayaan ekonomi umat melalui program bantuan usaha. Melalui kolaborasi antara LAZISNU PBNU dan Indomaret Berbagi, disalurkan total investasi sebesar Rp150 juta kepada 30 UMKM yang tersebar di seluruh wilayah Kota Depok.
Selain menilai kelayakan, tim LAZISNU juga memberikan edukasi kewirausahaan mencakup pengelolaan usaha secara profesional, mulai dari pencatatan penghasilan bulanan, pembukuan, hingga administrasi usaha. “Dalam proses survei, kami juga memberikan pendampingan awal terkait manajemen usaha, agar para pelaku UMKM bisa berkembang lebih baik,” kata Direktur NU Care LAZISNU Kota Depok, Sodiqul.
DKUM Latih 500 Peserta dengan Pendampingan Berkelanjutan
Sepanjang 2025, DKUM Kota Depok telah melaksanakan program pelatihan kewirausahaan yang diikuti 500 peserta. Setelah pelatihan, para peserta mendapatkan pendampingan lanjutan selama empat bulan, termasuk fasilitasi perizinan seperti Nomor Induk Berusaha (NIB), sertifikasi halal, Hak Kekayaan Intelektual (HAKI), hingga Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT).
DKUM juga membuka akses pemasaran melalui kerja sama dengan berbagai mitra, mulai dari Indomaret, Bakti Karya, hingga jaringan gerai Dekranasda Depok yang berjumlah sekitar 10 toko. Depok Expo 2025 menjadi puncak rangkaian program, menampilkan sekitar 40 stan produk UMKM binaan DKUM dan peserta inkubasi IPB. Thamrin menyampaikan kebanggaannya karena banyak peserta menunjukkan perkembangan signifikan, bahkan ada yang berhasil meningkatkan omzet hingga 200 persen dalam lima bulan terakhir.
Tantangan dan Arah Kebijakan: Menatap Masa Depan UMKM Depok
Meski kemajuan pesat terlihat di berbagai sektor, perjalanan UMKM Depok masih menghadapi sejumlah tantangan yang memerlukan perhatian serius.
Penggabungan Dinas: Efisiensi atau Risiko Anggaran?
Pemerintah Kota Depok mengusulkan Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang penggabungan Dinas Koperasi dan Usaha Mikro dengan Dinas Perdagangan dan Perindustrian. Langkah ini diambil sebagai bagian dari penataan kelembagaan perangkat daerah berdasarkan prinsip efektivitas, efisiensi, dan optimalisasi pelayanan publik.
Anggota Pansus, Moh. Hafid Nasir, menyampaikan bahwa penggabungan diharapkan mengurangi tumpang tindih program, mempercepat koordinasi, dan memperkuat ekosistem usaha dari hulu ke hilir. Namun, Fraksi PKS meminta Pemkot untuk memastikan anggaran pembinaan bagi minimal 60 ribu UMKM tidak berkurang karena nomenklatur baru, serta memastikan layanan ke UMKM tetap optimal.
BLK Ekonomi Kreatif: Investasi Jangka Panjang
Pemerintah Kota Depok menyiapkan pembangunan Balai Latihan Kerja (BLK) yang berfokus pada pengembangan keterampilan industri kreatif dan digital. Lokasi pembangunan direncanakan di Kampung Kekupu, Sawangan, di atas lahan seluas 4.000 meter persegi. Pembangunan fisik ditargetkan dapat dimulai pada 2027 dan rampung paling lambat 2028.
Sembari menunggu pembangunan fisik, program pelatihan sudah mulai dijalankan melalui fasilitas sementara di lantai 7 gedung parkir kawasan Balai Kota Depok. “Di Depok nanti lebih banyak ke industri kreatif,” ujar Kepala Bapperida Dadang Wihana. Sektor unggulan yang menjadi fokus meliputi kuliner, fashion, kriya, serta media art seperti aplikasi, game, dan robotik.
Koperasi Kelurahan Merah Putih: Antara Potensi dan Realitas
Program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) menjadi salah satu andalan pemerintah dalam memperkuat ekonomi kerakyatan. Di Depok, KNEKS mendorong KDKMP menjadi model entitas syariah perkotaan mandiri. Namun, Kepala DKUM Mohamad Thamrin tidak menampik adanya tantangan di lapangan. “Warga perkotaan terkadang masih meremehkan keberadaan KDKMP,” ungkapnya.
Pada 2025, setiap KKMP mendapatkan dana hibah sebesar Rp30 juta dari APBD Kota Depok sebagai modal awal usaha. Dana tersebut dimanfaatkan untuk membuka unit usaha, salah satunya gerai sembako yang kini sudah berjalan di sebagian besar koperasi.
Dukungan Lintas Sektor yang Kian Masif
Dukungan terhadap UMKM Depok tidak hanya datang dari pemerintah daerah. Komisi II DPRD Jawa Barat menegaskan pentingnya adaptasi teknologi bagi koperasi dan pelaku usaha mikro. “Kami ingin memastikan koperasi dan usaha mikro binaan di Kota Depok mendapatkan pendampingan yang tepat sasaran,” ujar Wakil Ketua Komisi II DPRD Jabar, Lina Ruslinawati.
Ketua Fraksi Gerindra DPRD Kota Depok, Edi Masturo, mendorong percepatan pengembangan sektor ekonomi lokal melalui akselerasi UMKM, koperasi modern, serta ekonomi kreatif berbasis teknologi. “Penguatan UMKM berbasis digital menjadi langkah penting untuk meningkatkan daya saing pelaku usaha lokal di tengah perkembangan ekonomi digital,” tegasnya.
Peta Jalan Menuju UMKM Depok yang Berdaya Saing Global
Melihat seluruh inisiatif yang telah dan sedang berjalan, arah pengembangan UMKM Depok ke depan semakin jelas. Beberapa capaian yang patut dicatat: DKUM telah mendata sekitar 12 ribu UMKM dalam database; program pelatihan kewirausahaan menjangkau 500 peserta per tahun dengan pendampingan berkelanjutan; inovasi berbasis AI dari mahasiswa UI membuka akses UMKM ke investor; sentra UMKM mulai dirintis di setiap kecamatan; dan pembangunan BLK ekonomi kreatif menjadi investasi jangka panjang untuk mencetak talenta kreatif yang adaptif.
Thamrin menyebut bahwa beberapa UMKM unggulan Depok sudah menembus pasar nasional. “Contohnya ada cireng asal Bojongsari, yang menyerap 50 sampai 100 tenaga kerja. Alhamdulillah, dengan berkembangnya UMKM ini bisa membantu mengurangi angka pengangguran di Kota Depok,” pungkasnya.
Dengan sinergi yang terus diperkuat antara pemerintah, kampus, dunia usaha, dan komunitas, UMKM Depok berada di jalur yang tepat untuk menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi kreatif—tidak hanya di tingkat lokal, tetapi juga nasional dan global.
Penutup
UMKM Depok di tahun 2026 menunjukkan bahwa kolaborasi adalah kunci. Pemerintah kota menyediakan infrastruktur dan akses pembiayaan, perguruan tinggi menyumbang inovasi teknologi dan pendampingan digital, sektor swasta dan lembaga filantropi turut mengucurkan modal, sementara komunitas akar rumput seperti Sentra Kue Subuh Tanah Baru membuktikan bahwa gotong royong masih menjadi kekuatan paling autentik.
Dari revitalisasi UMKM Center ITC hingga lahirnya platform AI UMKM-GO, dari kisah Kue Gelek yang omzetnya melonjak 60 persen hingga cireng Bojongsari yang menyerap 100 tenaga kerja—semuanya adalah potret nyata bahwa UMKM Depok tidak lagi sekadar bertahan, tetapi mulai berlari. Ke depan, konsistensi pendampingan, perluasan akses pasar digital, serta keberpihakan anggaran akan menjadi faktor penentu sejauh mana UMKM Depok mampu melesat di panggung nasional dan global.
Untuk informasi terkini seputar UMKM, ekonomi kreatif, dan berbagai perkembangan di Kota Depok, kunjungi laman Info Depok yang selalu hadir dengan berita terpercaya dan mendalam bagi masyarakat Depok dan sekitarnya.

